
Jam berdentang dengan keras menujukkan pukul 19.00. Tetesan air itu mulai terdengar yang mula hanya beberapa tetesan kini datang dengan bertubi-tubi. Hembusan dinginya angin pun mulai terasa yang nyelonong saja masuk lewat celah-celah jendela kamar ku. Aku ingat saat itu aku sedang bersamanya ditengah hujan lebat seperti ini. Hanya kita berdua dan payung yang setia menemani kita disaat hujan. Terekam jelas suara tawa nya, suara tawaku, suara tawa kita. Setelah kejadian itu saat kedua orang tua mu tidak menyetujui hubungan kita, aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak terasa air mata telah menetes hingga ke pipi ku. Menyadari apa yang telah terjadi. Sesak terasa sekali dalam dada ku. Fisik ku sudah bisa terima semua ini tapi batin ini masih tersiksa jika masih teringat tentang mu. Masih berbalas pesan denganmu, masih selalu bertukar kabar melalu telephone, mungkin juga berbalas kabar di sosial media. Aku tak tau sampai kapan ini akan berlangsung. Mungkin nanti kau akan bahagia dengan wanita pilihan kedua orang tua mu.
Jika kau bisa menhitung titik-titik hujan itu, sebanyak itu lah aku merindukanya. Setiap kali aku mendengar rintik-rintik hujan itu aku selalu mengingat senyum manismu. Senyum yang begitu indah berhiaskan dengan lesung pipimu yang dalam. Mungkin ini sudah jalan kita. Itulah kenangan yang diberikan hujan kepadaku. Biarlah air mata ini mengalir bersama kisahku. entah berapa liter lagi air mata yang akan aku keluarkan. Apa aku harus mencintai mu dengan bulir-bulir air mata? :'(
Kali ini hujan turun lagi
Menjatuhkan sejuta kenangan
Yang tak akan pernah terlupakan


0 komentar:
Posting Komentar